Showing posts with label hippapi. Show all posts
Showing posts with label hippapi. Show all posts

04 July 2015

Rilis HIPPAPI JATENG 2015

Assalamu'alaikum
Salam Sejahtera
Dumateng dulur pelung sak Jateng
Untuk efesiensi ruang dan waktu bagi proses komunikasi dan interaksi segenap peternak, penghobi, pecinta, komunitas dan semua elemen civitas Ayam Pelung khususnya di provinsi Jawa Tengah.
Dimohon untuk semua group-group ayam Pelung se Jawa Tengah melebur dalam satu wadah sehingga transfer informasi menjadi efesien dan merata di setiap daerah dalam wilayah JATENG.Silaturahmi, semangat dan dedikasi dari pelungers se-Jateng dapat dihimpun menjadi satu kesatuan yang utuh dan solid. Aamiin
  1. Ayam Pelung JATENG [APJAT] adalah group yang mewadahi seluruh pecinta , penghobi, peternak dan komunitas Ayam Pelung khususnya di Jawa Tengah.
  2. APJAT dikelola bersama oleh HIPPAPI JATENG, sebagai induk Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung Indonesia Provinsi Jawa Tengah.
  3. APJAT sebagai media komunikasi dan silaturahmi untuk menghimpun seluruh elemen perpelungan di Jawa Tengah melalui edukasi dan sosialisasi.
  4. Wadah untuk ber apresiasi : menampilkan foto/video/tulisan seputar ayam pelung
  5. Media penampung aspirasi, ide dan konsep gagasan bagi anggotanya untuk kemudian ditampung dan dijadikan masukan konstruktif bagi HIPPAPI JATENG dalam upaya menumbuh kembangkan ayam pelung di Jawa Tengah.
  6. Hal-hal yang belum termaktub dalam rilis ini, akan di diskusikan bersama lebih lanjut.
Terimakasih
Salam Hangat
Segenap pengurus dan Anggota HIPPAPI JATENG, Admin dan Pelungers Jateng

Sosmed : https://www.facebook.com/groups/hippapijateng/
WebBlog : http://hippapi-jateng.blogspot.com/

15 February 2014

Sejarah ayam Pelung

Ayam Pelung


ayam pelung
Ayam Pelung adalah plasma nutfah asli Indonesia

Bunikasih , nama salah satu Kampung di Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur. Kampung ini terletak di kaki Gunung Gede, dengan udara sejuk dan dikelilingi area pesawahan yang luas serta di aliri sungai-sungai yang berair jernih. Sejak Tahun 1700-an di Kampung ini terdapat Pesantren Bunikasih yang di pimpin oleh KH Muhammad Soheh dan mempunyai Santri/Anak Didik dengan jumlah banyak yang datang dari berbagai Daerah , terutama dari sekitar Cianjur, Jawa Tengah  dan Daerah Banten untuk belajar dan menuntut ilmu keagamaan . Sekitar tahun 1850-an , seorang Ulama dan ahli Kebathinan yang bernama Mama Djarkasih ketika pergi keladang untuk bercocok tanam, beliau menemukan seekor anak Ayam yang turundul (Berbulu Jarang). Kemudian, Beliau menbawa dan memelihara Ayam tersebut . Setelah dewasa, Ayam ini ternyata berbeda dengan Ayam kampung pada umumnya, yaitu bersuara sangat panjang dan besar serta berirama merdu.
 Banyak orang yang kagum pada suara dan tubuhnya yang gagah tinggi besar. Mereka kemudian menyebutnya dengan sebutan Ayam Pelung. Mama Djarkasih kemudian mengawinkan dengan ayam betina yang berbadan besar agar ayam yang bersuara merdu ini mempunyai keturunan yang unggul. Para Santri yang berasal dari Daerah lain setelah menyelesaikan pendidikan di Pesantren Bunikasih itu banyak yang membawa keturunan kawinan Ayam Pelung tersebut sebagai oleh-oleh ketika pulang ke Daerah masing-masing. Karna suaranya yang panjang dan merdu, di sertai postur tubuh tinggi dan besar menyiratkan sosok yang gagah, pada masa itu Ayam Pelung banyak di pelihara dan di jadikan sebagai hewan kesayangan para Bangsawan, Pejabat dan ulama, bahkan dari tahun ke tahun perkembangan dan penyebaran ayam pelung ini tidak terbatas pada kalangan bangsawan saja namun di minati dan di pelihara oleh masyarakat kebanyakan. Sejak saat itu selain di Cianjur, ayam pelung telah menyebar dan berkembang ke daerah-daerah lain di Jawa Barat seperti Sukabumi, Bandung, Bogor, Garut, Tasikmalaya, Majalengka, Sumedang, DKI Jakarta, Tanggerang dan Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur bahkan ke seluruh pelosok nusantara. Pada tahun 1976 atas dorongan Bupati Cianjur saat itu Bapak Ir. H. Adjat Sudrajat Sudiraharja dan kepala Dinas peternakan Cianjur Ir. H Dedi Sobandi beserta para tokoh ayam pelung diantaranya H.Bustomi, H.Jaelani, H.Wasid, Anang Sungkawa, Mualim Dadang dan tokoh lainnya mendirikan HIPPAP (Himpunan Peternak Penggemar Ayam Pelung) di Cianjur. Organisasi ini bersipat lokal dan kegiatanya terbatas di lingkup Cianjur merupakan cikal bakal terbuntuknya HIPPAPI.
     Sesuai dengan perkembangannya yang pesat, pada tahun 1992 atas prakarsa Prof.Dr.Ir.H Gunawan Satari, Msc. HIPPAPI Sebagai organisasi dan wadah para peternak dan penggemar ayam pelung di cianjur, berubah menjadi Himpunan Peternak Penggemar Ayam Pelung Indonesia (HIPPAPI) Setelah berubah sekala organisasinya menjadi sekala Nasional yang di ikuti oleh terbentuknya HIPPAPI Provinsi dan HIPPAPI kabupaten atau cabang.

16 November 2012

Istilah Suara Ayam Pelung


    ISTILAH SUARA PELUNG :
    1. Ngalewung = suara naik gema melambung, membahana.
    2. Handaruan = gema, gaung, gerung, echo, bengung.
    3. Lunyu = licin, bening = limit = leucir = leueur.
    4. Gateng, Papantengan = suara bertahan di nada tinggi setelah Bitu, bertahan lama sebelum diturunkan.
    5. Bitu = meletus, meledug, nada tinggi pada AP yg posisinya antara Suara Angkatan dan Suara Ujung. Masuk dalam Suara Tengah.
    6. Dasar Sora = dasar suara, latar.
    7. Londong = bulu hitam dengan bulu leher merah atau kuning, biasa pada betina.
    8. Kondang = bulu koneng/kuning atau coklat terang.
    9. Kedung = bulu dasar hitam, sedkit merah, mata hitam, kaki hitam.
    10. Balem = suara dalam dgn paruh tertutup/ rapat biasanya.
    11. Beukah = dasar suara yg semakin membesar.
    12. Neros = dasar suara yg mengecil.
    13. Ngulapes = suara tengah ke ujung yg tidak ditahan, bisa jg hampir berlawanan dgn Gateng/­papantengan.
    14. Ngucubung = suara yg membesar di suara Ujung/akhir.
    15. Nguwung = suara dasar Ung tapi bulat nutup.
    16. Lostor = suara polos tanpa bitu

      28 September 2012

      Upaya Pelestarian Ayam Pelung


      Memperhatikan adanya arti, fungsi dan pentingnya plasma nutfah Ayam pelung ini, maka sudah selayaknya apabila kita berusaha untuk melestarikan keberadaan dan kemurniannya. Namun tentu saja untuk melestariakan ayam Pelung ini perlu upaya-upaya dari berbagai pihak, yang dirangsang oleh rasa kepedulian terhadap keberadaan mahluk spesifik ini diiringi dengan manfaat yang secara ekonomis menguntungkan dan/atau mendatangkan suatu penghasilan bagi peternak (institusi dan/atau masyarakat petani perorangan, kelompok dan/atau peternak besar atau menengah) yang memelihara ayam pelung ini.
      Salah satu upaya yang sementara ini sudah dilaksanakan adalah kegiatan kontes suara ayam Pelung, yang dapat menarik para peternak untuk tetap mempertahankan keberadaan ayam Pelung. Kemudian informasi dari buku inipun dapat dikatakan sebagai salah satu upaya untuk memberikan suatu dorongan kepada para peternak dan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk memelihara ayam Pelung ini. Selain upaya pemerintah Kabupaten Cianjur beserta para peternak ayam Pelungnya, pada tahun 1993 telah terbentuk Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung Indonesia yang diketuai oleh Prof.Dr. Ir. Gunawan Satari, yang pada waktu itu menjabat sebagai staf ahli Kementrian Negara Riset dan Teknologi. Bahkan pada tahun yang sama telah dilaksanakan suatu kontes kokok ayam Pelung se Indonesia di Lapangan Banteng Jakarta, yang diselenggarakan oleh HIPPAPI bekerjasama dengan Yayasan Pembangunan Jawa Barat, Arena Promosi Peternakan Indonesia (APROSANDO), Direktorat Jenderal Peternakan dan Kantor Menteri Riset dan Teknologi.
      Tentunya kegiatan kontes ini secara berkala telah dilakukan masyarakat Kabupaten Cianjur. Menurut Laporan HIPPAPI (1993) 8), ayam Pelung sudah menyebar ke Kabupaten Sukabumi, Bandung, Tasikmalaya, Purwakarta, Bogor, dan beberapa kabupaten lainnya di Jawa Barat, bahkan sampai ke DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Timur. HIPPAPI Cianjur saat ini cukup aktif dengan beranggotakan 300 peternak, merupakan upaya pelestarian yang cukup baik. Distribusi keberadaan ayam pelung telah berkembang sampai kurang lebih 12 kecamatan di Kabupaten Cianjur.
      Upaya ini tidak hanya berhenti disini saja, tetapi instansi penelitian akan selalu ditantang untuk menggali segala potensi mulai dari potensi keindahan audiovisual sampai potensi penyediaan sifat-sifat yang bermanfaat yang dapat diturunkan atau direkayasakan secara genetika pada komoditas unggas lainnya, yang kita harapkan dapat memiliki sifat-sifat genetika yang ada dalam ayam pelung. Karakterisasi sifat-sifat khas merupakan mandat balai penelitian untuk selalu memberikan informasi berbagai kekayaan sumberdaya genetika plasma nutfah Indonesia.
      Komisi Nasional Plasma Nutfah telah terbentuk dan terus mengupayakan untuk dapat berkoordinasi dan mendorong pemangku kepentingan di daerah, dimana terdapat sumber-sumber daya genetika asli, untuk ikut serta melestarikan keragaman hayati yang terdapat di bumi Indonesia tercinta ini. Diharapkan di daerah dapat dibentuk satu pemerhati plasma nutfah dalam bentuk Komisariat Daerah Plasma Nutfah yang dapat berkoordinasi dengan Komisi Nasional Plasma Nutfah.

      Sumber : http://rivafauziah.wordpress.com/2007/04/04/upaya-pelestarian-pelung/

      Main Ads HIPJAT

      Cari